Categories
Default

Ternak Sapi Pedaging Lebih Menguntungkan

Permasalahan susu, ungkap Marsudi, sangat kompleks. Yaitu, sumber daya peternak belum maksimal, peralatan ternak dan koperasi masih kurang, seperti peternak masih memerah dengan tangan menggunakan wadah seadanya. Atau, koperasi juga belum memiliki peralatan stainless steel atau jumlah pendingin yang mencukupi. Kemudian, sulit menganalisis kualitas susu karena berasal dari berbagai peternakan. “Kadang perah sore dimasak lalu dicampur dengan susu pagi. Padahal kalau sudah dimasak itu bukan susu segar lagi,” kata Ketua Koperasi Wahyu Agung di Desa Su mo gawe, Kec. Getasan, Kab. Semarang, Jateng itu. Di samping itu, dia menambahkan, koperasi telah mengeluarkan modal banyak untuk membina peternak sapi perah rakyat. Modal itu misalnya untuk biaya pelatihan pegawai, penyuluhan, pembelian alat, hingga dana sosial masyarakat. “Koperasi itu bisnis sosial, kita berhadapan dengan masyarakat secara langsung. Dana sosial itu yang paling tinggi, seperti hari be sar kegiatan keagamaan dan hari ke merdekaan RI. Itu se tahun tidak kurang dari Rp50 juta ha nya untuk kegiatan sosial,” tegasnya. Maka, Marsudi meminta pemerintah melakukan pe nyuluh an atau pendampingan untuk meningkatkan pengetahuan peternak rakyat. Sentosa, Ketua Koperasi Unit De sa (KUD) Mojosongo, Kec. Mojo songo, Boyolali pun sepakat. “Ada ke pedulian pemerintahlah untuk peternak. Sapi perah menurut kita terabai kan baik populasinya, genetis, maupun bibit yang bagus sangat kurang,” urai nya. Dia pun meminta pemerintah mem berlakukan kewajiban melampir kan bukti serap susu segar nasional oleh masing-masing pabrik peng olah susu, minimal 20%. “Itu sudah memberi harapan pada peternak,” tandasnya. Saat ini Koperasi Wahyu Agung mene rima susu sebanyak 20 rton/hari dari sekitar 1.200 peternak sapi perah untuk dijual ke PT Frisian Flag Indone sia (FFI). Sedangkan KUD Mojosongo menghasilkan susu sebanyak 70 ton/hari pada 2010. Hingga tahun lalu, produksi ini merosot separuhnya hingga tinggal 35 ton/hari. Sentosa menjelaskan, sejak diberlakukannya TPC maksimal 1 juta cfu/ml oleh FFI, produksi susu KUD Mojosongo turun menjadi 28-29 ton/hari ka rena tidak bisa memenuhi standar TPC yang diminta. “Pernah truk truk susu kapasitas 15 ton/tangki ditolak FFI karena TPC di atas 1 juta cfu/ml,” ungkap dia kepada AGRINA. Awalnya, FFI baru menolak susu jika TPC di atas 2 juta cfu/ml. Meski begitu, FFI menaikkan harga beli sekitar Rp400/L menjadi sekitar Rp5.300/L dari sebelumnya sebesar Rp4.700-Rp4.800/L di level koperasi. “Peternak sisanya mungkin menjual ke IPS lain karena tidak bisa memenuhi standar TPC,” pungkasny