Categories
News

Cara Pemerintah Membatasi Produk Impor Daging Ayam dari Brazil

Lima puluh tahun yang lalu, masya – rakat Indonesia belum mengenal is – tilah ayam broiler (pedaging) dan ayam layer (petelur). Dengan bertambah – nya penduduk yang diiringi mening kat – nya kebutuhan akan protein, pemerintah mengintroduksi ayam berproduktivitas tinggi tersebut. Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia (FPMI), Don P. Utoyo mencerita – kan, pemerintah lalu mengajak swasta un – tuk berinvestasi. Hasilnya, saat ini daging ayam dan telur menjadi protein hewani yang paling banyak diproduksi dan ter – jangkau. Ketika persediaan melimpah dan mampu berswasembada, Indonesia ma – lah kalah dari Brasil dalam sengketa di or – ga nisasi perdagangan dunia (World Trade Organization – WTO).

Kekalahan tersebut menandai persaing – an bukan lagi antarpeternak ataupun antarperusahaan di dalam negeri. Era per – dagangan global sudah terbuka, produk perunggasan asal Negeri Samba bersiap menggoyang pasar Indonesia. Karena itu, “Persaingan di dalam negeri kita redakan. Mari kita hadapi dan antisipasi ancaman produk dari luar negeri. Peternak pun te – tap membutuhkan pemerintah sebagai regulator pelindung,” ajak Direktur Perbi – bit an, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, periode 2001-2004 itu dalam seminar AGRINA Agribusiness Outlook 2018 di Jakarta, Kamis (15/3).

Investasi dan Produksi

Laju produksi yang pesat dibarengi per – min taan belum begitu kuat menyebab kan oversuplai kerap kali terjadi di dalam negeri. Menurut Don, produksi broiler be gitu pesat di Indonesia, sebanyak 3 juta ton dalam setahun. Ini terbilang nomor tujuh tertinggi di dunia. Sehingga bisa di ka takan, produksi bisa melampaui kebu tuh an serapan pasar dalam jangka pendek. Saat ini, Don mengutarakan, investasi di industri perunggasan Tanah Air sudah lebih dari Rp10 triliun dengan revenue (omzet) mencapai sekitar Rp450 triliunRp500 triliun. Meskipun ada yang merugi, toh tidak mengendurkan investasi dari dalam maupun luar negeri. Investasi makin besar diikuti dengan kompetisi dan permasalahan yang makin besar pula. Contohnya, 12 perusahaan ung gas divonis mempraktikkan kartel oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pada 2016 lantaran melakukan afkir dini anak ayam. Padahal, kesemua perusahaan tersebut hanya mematuhi im bauan Dirjen Peternakan dan Kesehat – an Hewan saat itu.

Walaupun pada akhir – nya pengadilan menganulir putusan kar – tel tersebut. “Tidak mungkin perusahaan itu bersama-sama memonopoli, yang ada mereka saling bersaing,” tegasnya. Setelah kalah dari WTO, kompetisi ketat bukan hanya timbul antar sesama peter – nak maupun antar perusahaan, akan teta – pi ditambah lagi dari Brasil. Brasil adalah produsen broiler terbesar dunia dengan pa sokan 17 juta ton dalam setahun. Me – re ka begitu ofensif ingin menggolkan eks pornya ke Indonesia. Bahkan, imbuh Don, Februari lalu per – wa kilan Kementerian Pertanian Brasil ber – tandang ke Kementerian Pertanian Indo – nesia. Meskipun ketersediaan ayam di Indonesia masih berlebih, Brasil akan te – rus berusaha untuk memasukkan produk unggasnya. “Ini yang disebut bisnis, ma – sih akan terjadi pada 2018 dan seterus – nya. Ini seperti spiral, setiap hari investasi – nya makin besar tapi masalah juga mem – besar,” ucap bapak kelahiran 1944 ini.

Kerja Sama dan Promosi

Mengutip hasil penelitian Tjeppy D. Soedjana dari Puslitbang Peternakan, Don menyebut, broiler menyumbang le -bih dari 65% dari total konsumsi protein. Ini berarti daging broiler masih menjadi tum puan asupan protein nasional. Dari se – gi ketersediaan pun, tak perlu dikhawa tir – kan. Namun yang perlu diperhatikan ada – lah perdagangan dunia yang tidak bisa ditutupi. Karena itu pelaku usaha harus cerdik dalam menyikapinya. Don menganjurkan, persaingan dan per seteruan di dalam negeri sebaiknya diredakan karena kita menghadapi “mu – suh” bersama, yaitu produk impor. Sa ran – nya pertama, peternak harus bisa mela – ku kan efisiensi. Biaya produksi Malaysia hanya sekitar 80% dari biaya produksi Indonesia. Per meter kandang pun bisa di – isi 20 ekor dengan bobot saat panen se – kitar 2,2 kg/ekor. Jadi, satu meter persegi meng hasilkan 44 kg ayam hidup. Semen – tara di Indonesia, paling banyak 10 ekor, sudah termasuk bagus. Selain itu, kerja sama pun harus dilaku – kan bukan hanya antarpelaku usaha, tapi juga pemerintah.

Keha dir – an pemerintah bisa mem – ban tu dan mendorong le – bih kuat lagi. Namun, pe – merintah tidak harus mem – produksi unggas sen diri, melainkan cukup sebagai regulator. Uang pemerin – tah bisa diinves ta si kan, se – misal memberi kan fasilitas skim kredit murah dalam pendirian kan dang tertutup atau ru mah potong ayam. “Kalau semua bisnis – nya maju, benefitnya akan dirasakan pemerintah,” simpulnya. Menurut Don, kerja sama perlu dilaku – kan secara menyeluruh. Ia menyebut “5P” sebagai pihak yang harus saling men du – kung, yaitu pemerintah, para peneliti (aka – de misi), pelaku usaha, publik (masyara – kat), dan pers (media). Publik perlu dibe – ritahu dan diedukasi terkait produk makanan yang baik, jangan sampai sembarang atau bahkan salah makan. Produk-produk hasil olah an unggas bisa dipromosi kan tidak hanya lewat tele visi.

Media online dan media sosial juga bisa menjadi sa ra na promosi dan pema sar an. Lalu pers bisa berperan da lam membantu mende ngungkan apa yang telah di buat pemerintah, para pe ne liti, maupun pelaku usaha. Produk Brasil pasti akan ma – suk. Kalau promosi kita kuat, kita akan bertahan. Ter utama soal ketentuan halal, produk Indo nesia pasti lebih meyakin kan. Seka rang juga sudah mulai banyak dijum – pai outlet-outlet ayam olahan di ja lan-jalan. “De ngan kerja sama 5P tadi mu dah-mu – dah an kita semakin maju,” pung kas Don.