Categories
Default

Budidaya Udang Media Selektif ala Teluk Tomini

Berbagai teknologi budidaya udang terus dikembangkan guna me ningkatkan produktivitas dan mengendalikan serangan penyakit. Di antaranya, teknologi budidaya udang semiflok/biosurfaktan dengan media selektif yang dikembangkan Abdul Adzim, pembudidaya udang di Sulsel. Bagaimana teknisnya?

Empat Faktor

Pada seminar budi daya udang yang di gelar Ikatan Petam bak Pesisir Barat Sumatera (IPPBS) di Bandar lampung, Lampung baru-baru ini, Adzim, sapaannya menguraikan empat faktor yang menjadi dasar dan pertimbangan dalam menjalankan bis nis tambak udang. Yakni, seleksi lokasi, desain dan konstruksi tambak, infrastruktur, dan manajemen. Dalam melakukan seleksi lokasi, kata pria yang mengawali karir menjual pakan udang di PT Charoen Pokphand pada 1991 itu, kualitas sumber air dan elevasi atau ketinggian suatu tempat harus menjadi pertimbangan. Kualitas air ditandai dengan kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen, DO) dan total organik meter (TOM) yang berada pada level layak dan di bawah ambang batas.

Selain itu, lokasi harus berada di atas pasang surut sehingga biaya pengeringan tambak lebih murah dan jauh dari muara sungai karena umumnya air sungai membawa berbagai limbah dan lumpur. Menurut Adzim, perencanaan desain atau konstruksi tambak harus menyertakan adanya tandon dan instalasi pengolahan limbah (IPAL). Tandon berfungsi mensterilisasi air sedangkan IPAL bertujuan agar air yang kembali masuk ke laut sudah bebas zat-zat organik dan penyakit. Untuk tambak seluas 10 ha misalnya, ia membangun kolam IPAL seluas 1 ha dengan kedalaman 4 m. Selanjutnya, tambak dibangun sedalam 3,2 m sehingga bisa diisi air sebanyak 3 m. Pria yang awalnya merintis budidaya udang di Jatim ini mempersilakan penggunaan alas plastik atau semen bergantung kondisi tanah dan modal yang dimiliki.

Sementara luasan kolam, yang menjadi pertimbangan adalah kontur lahan. Semakin luas ukuran kolam, semakin rendah biaya konstruksinya. Adzim mengope rsikan tambak rata-rata seluas 1 ha/kolam. Ia menyarankan mulut pipa untuk penyedotan air laut berjarak minimal 500 m dari bibir pantai. Pertimbangannya, selain memperhatikan pasang surut juga agar air yang disedot itu jernih karena sudah berada di depan ombak pantai. Sedangkan faktor infrastruktur yang menjadi perhatian adalah akses jalan raya dan jaringan listrik PLN. Akses jalan sangat diperlukan guna memudahkan pengangkut an benur dan pakan ke areal tambak dan pengangkutan udang keluar saat panen.